Being an Indonesian

When Young Mans Meet their Dream about Indonesia

globalisasi February 6, 2010

Filed under: Opinions — sopyanmk @ 12:25 am
Tags: , , , , , ,

Lulu Izdhar Salsabila
IX-I No. 20

Menurut pendapat saya, Globalisasi itu semacam istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain. Kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal.
Tetapi ada saja suatu gerakan yang anti terhadap globalisasi yang para pesertanya dipersatukan dalam perlawanan terhadap ekonomi dan sistem perdagangan global saat ini, yang menurut mereka mengikis lingkungan hidup, hak-hak buruh, kedaulatan nasional, dunia ketiga, dan banyak lagi penyebab-penyebab lainnya.

Hampir semua aspek yang ada di masyarakat dipengaruhi oleh globalisasi contohnya:
– memiliki handphone yang canggih saja sudah menjadi lifestyle, jadi bisa saja mereka itu ‘latah-tren’ seperti PDA atau smartphone. Anak-anak sekolah saja sudah memakainya, padahal mereka belum terlalu membutuhkan handphone yang sepintar itu. Apalagi handphone jaman sekarang banyak dipersenjatai atau disuguhi dengan fasilitas internet. Saya takut jika seandainya anak-anak sekolah terlalu ‘addicted’ dengan internet, jejaring sosial, nanti mereka jadi kurang ada semangat untuk belajar buat masa depan nanti yang ada malah menyesal belakangan. Termasuk saya juga, saya mengakui saya juga ketagihan dengan fasilitas internet tetapi saya mencoba berubah demi masa yang akan datang.

– harajuku style, padahal kita sendiri belum tentu cocok memakai pakaian tersebut. misalnya memakai celana yang di ‘hipster’. menurut saya, gaya itu kurang pantas seandainya kita memakai celana di ‘hipster’ kalau tiba-tiba kelihatan celana dalamnya bagaimana? terus anak muda jaman sekarang itu mengenal istilah “a-l-a-y” yang artinya itu serba berlebihan, dari cara berpakaiannya, cara pengetikan sms atau di internet, cara bahasanya, bahkan perilakunya. cara berpakaiannya yang alay tadi itu tergolong harajuku style (yang tadi saya bahas) seperti model rambut pria yang poninya panjang, saya saja kalah panjang dengan poni mereka yang panjang, ada yang pantas ada yang tidak. Waktu itu juga saya pernah melihat anak muda memakai hotpants yang super pendek, tanktop, rambut dicat jadi warna-warna yang neon seperti orang-orang Amerika atau Eropa, masih mending pantas, jika tidak? Tapi, di era globalisasi ini kita juga harus melestarikan budaya kita juga, ingatkah kapan terakhir kali kalian memakai pakaian kebaya? kalau saya sih sewaktu perpisahan SD. Saya suka sekali dengan kebaya ataupun batik, karena mereka beda daripada yang lain dan unik. Orang luar negeri saja tertarik dengan kebaya dan batik, masa’ kita sendiri tidak?

– junk food atau fast food seperti mcd, kfc, hoka-hoka bento dan lain-lain, memang enak dan lezat tetapi efeknya sangat ganas. Memang saat ini kita tidak merasakan efeknya, tetapi saat kita tua nanti pasti ada, seperti kolesterol tinggi dan lain-lain. Kita juga harus makan makanan a la negara kita sendiri seperti soto ayam, rawon, pecel lele, nasi timbel, nasi liwet dan masih banyak yang lainnya. Masakan Indonesia enak-enak, tapi kalian saja belum mencobanya.

– bersikap individualisme, menurut saya bersikap seperti itu sungguh tidak enak. Seandainya kita sedang kesusahan untuk melakukan sesuatu ingin meminta bantuan dan kita bersikap individualisme, siapa yang hendak menolong kita? Manusia itu makhluk sosial pasti akan bergantung dengan manusia lainnya. Seperti masyarakat yang tinggal di perumahan, mereka sangat individualisme, seakan-akan rumah mereka hanya untuk tempat persinggahan bukan untuk bergaul dengan tetangganya. Lihatlah masyrakat yang tinggal di perumahan atau di pedesaan, mereka saling gotong royong, saling membantu. Memang, sifat asli masyarakat Indonesia adalah saling bersosialisasi, kenal tidak kenal mereka akan saling berinteraksi, sangat beda dengan masyarakat luar negeri.

Kita pun dapat mengatasi terlalu maraknya Globalisasi dengan memakai produk dalam negeri (yang telah saya bahas), pelihara budaya sendiri dan diperbanyak iman dan takwa, itulah yang paling utama, karena jika tidak, kita akan merasa ‘down’ untung bersaing di kalangan masyarakat, apalagi di era globalisasi.

Pesan saya: janganlah merasa takut saat berjuang untuk mengapai cita-cita atau kemauan kita!

P.S: pak, maaf ya kalau seandainya salah dan maaf juga kalau terlalu panjang. hehehe

 

One Response to “globalisasi”

  1. lulu izdihar pak, bukan lulu idzhar. huehehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s